Perkembangan Terbaru Gempa NTT: 2.403 Gempa Susulan, Korban Mencapai 70 Orang
NTT — Penanganan bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus berlangsung. Hingga Selasa, 18 Agustus 2026, aktivitas kegempaan di wilayah Flores masih tergolong tinggi dengan ribuan gempa susulan tercatat pascagempa utama berkekuatan Magnitudo 7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mencatat 1.624 gempa susulan hingga Senin, 17 Agustus 2026 pukul 11.00 WIB. Perkembangan terbaru menunjukkan jumlah tersebut terus bertambah. Sejumlah laporan media pada Selasa menyebut aktivitas gempa susulan telah mencapai sekitar 2.403 kejadian.
BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap tenang, namun tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi terkait prediksi gempa berikutnya.
Korban Terus Didata
Dampak gempa besar tersebut juga masih dalam proses pendataan. Laporan terbaru yang disampaikan Basarnas pada Selasa sore mencatat 70 orang meninggal dunia dan 1.182 orang mengalami luka-luka akibat bencana gempa di NTT. Data tersebut masih berpotensi berubah seiring proses pencarian, evakuasi dan pendataan di lapangan.
Selain korban jiwa, gempa menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan fasilitas masyarakat di wilayah terdampak. Tim gabungan masih melakukan asesmen untuk memastikan tingkat kerusakan sekaligus menentukan kebutuhan penanganan berikutnya.
BMKG Turunkan Tim Survei
BMKG pada Selasa juga mengerahkan tim gabungan untuk melakukan survei makroseismik, pengujian karakteristik respons tanah, serta verifikasi dampak tsunami pascagempa M7,7 di wilayah Flores.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendapatkan gambaran lebih lengkap mengenai tingkat guncangan, kondisi tanah serta dampak gempa terhadap masyarakat dan infrastruktur.
Sebelumnya, BMKG menjelaskan bahwa gempa M7,7 tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar naik Busur Belakang Flores (Flores Back Arc Thrust). Gempa ini sempat memicu peringatan dini tsunami di sejumlah wilayah pesisir NTT.
Peringatan dini tsunami kemudian diakhiri BMKG pada 15 Agustus 2026 pukul 07.30 WIB. Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi gempa susulan dan mengikuti informasi resmi dari BMKG maupun pemerintah daerah.
Pemerintah Percepat Penanganan
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah, TNI, Basarnas, Kemensos dan berbagai unsur terkait terus melakukan penanganan terhadap masyarakat terdampak.
TNI, melalui jajaran Kodam IX/Udayana, turut melakukan pendataan, evakuasi korban, pelayanan kesehatan, penyediaan dapur lapangan serta pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Kemensos juga memastikan kebutuhan makanan bagi sekitar 31 ribu pengungsi tetap terpenuhi. Bantuan yang disalurkan mencakup beras dan berbagai kebutuhan pokok.
Pemerintah juga menyiapkan bantuan pangan dengan nilai sekitar Rp100 miliar untuk masyarakat yang terdampak bencana gempa NTT.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Dengan masih tingginya aktivitas gempa susulan, masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap mengikuti arahan petugas dan menghindari bangunan yang mengalami kerusakan.
Informasi mengenai perkembangan aktivitas gempa sebaiknya diperoleh melalui kanal resmi BMKG, pemerintah daerah, Basarnas dan lembaga terkait.
Perkembangan situasi di NTT masih bersifat dinamis. Jumlah korban, kerusakan maupun aktivitas gempa susulan dapat berubah seiring proses pendataan dan pemantauan di lapangan.
Sumber: BMKG, Basarnas, ANTARA, dan laporan media nasional per 18 Agustus 2026.
.jpeg)
Posting Komentar