Gelombang Protes Muncul Usai Harga Pertamax Naik, YLKI Soroti Perlindungan Konsumen
ZONAINTIEM.COM, Jakarta — Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax memicu gelombang protes dan kekhawatiran di berbagai kalangan masyarakat. Sejumlah konsumen menilai kenaikan yang berlaku mulai 10 Juni 2026 tersebut terlalu memberatkan, terutama di tengah tekanan biaya hidup dan daya beli yang belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan penyesuaian terbaru, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, atau sekitar 32 persen. Pertamax Green 95 juga mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Sorotan YLKI
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menyoroti dampak kenaikan tersebut terhadap konsumen. Sekretaris Eksekutif YLKI, Rio Priambodo, mengatakan pihaknya memahami harga BBM nonsubsidi dipengaruhi oleh harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Namun, penyesuaian harga tetap harus memperhatikan perlindungan konsumen, transparansi, serta dampak sosial yang ditimbulkan.
YLKI juga memperingatkan potensi perpindahan konsumen dari Pertamax ke BBM bersubsidi seperti Pertalite. Kondisi ini dikhawatirkan dapat meningkatkan antrean, menekan distribusi, dan memicu kelangkaan di sejumlah wilayah jika tidak diantisipasi dengan baik oleh pemerintah dan Pertamina.
Keluhan Warga dan Reaksi Publik
Keluhan warga mulai bermunculan di media sosial maupun di lapangan. Sejumlah pengguna kendaraan bermotor menyebut kenaikan harga ini langsung menambah biaya transportasi harian mereka. Dalam laporan Reuters, seorang pekerja di Bandung mengaku terkejut karena penghasilannya tidak berubah sementara kebutuhan pokok dan biaya transportasi terus meningkat.
Reaksi publik juga terlihat di forum daring. Sejumlah pengguna internet mempertanyakan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga energi dan khawatir kenaikan ini akan berdampak pada pekerja sektor informal, termasuk pengemudi ojek online yang bergantung pada kendaraan pribadi untuk bekerja.
Pemerintah menyatakan dampak inflasi dari kenaikan Pertamax diperkirakan terbatas karena Pertamax dan Pertamax Green merupakan BBM nonsubsidi yang tidak digunakan secara luas untuk transportasi umum. Namun, para ekonom menilai kenaikan ini tetap berpotensi menekan konsumsi rumah tangga kelas menengah, terutama ketika suku bunga dan biaya hidup juga meningkat.
Di sisi lain, Pertamina menegaskan penyesuaian harga dilakukan berdasarkan evaluasi berkala dengan mempertimbangkan dinamika harga energi global dan formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan.
Potensi Dampak Ekonomi
Beberapa lembaga ekonomi memperingatkan bahwa kenaikan Pertamax dapat mempersempit ruang belanja masyarakat kelas menengah dan mendorong peralihan konsumsi ke BBM bersubsidi. CELIOS menilai pengguna Pertamax tidak hanya berasal dari kelompok berpendapatan tinggi, melainkan juga pekerja, guru, pegawai, dan pengemudi yang memilih BBM dengan kualitas lebih baik untuk kendaraan mereka.
Hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai perubahan harga BBM subsidi. Pemerintah dan Pertamina diminta memastikan pasokan Pertalite tetap aman agar kenaikan Pertamax tidak memicu gangguan distribusi maupun antrean panjang di SPBU.
(Zi/ya)



Posting Komentar