Disdikbud Kalbar Tanggapi Polemik Penilaian LCC 4 Pilar MPR RI, SMAN 1 Pontianak Protes Keputusan Juri
Zonaintiem.com – Polemik penilaian dewan juri dalam ajang Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat masih menjadi perhatian publik. Kontroversi mencuat setelah tim dari SMAN 1 Pontianak memprotes keputusan juri yang dinilai tidak konsisten saat memberikan penilaian dalam sesi rebutan pertanyaan.
Menanggapi persoalan tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat melalui Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disdikbud Kalbar, Syarif Faisal Indahmawan Alkadrie, menyatakan pihaknya telah memanggil Kepala SMAN 1 Pontianak beserta tim pendamping LCC untuk membahas persoalan tersebut.
“Kami sudah memanggil Kepala SMAN 1 Pontianak dan tim pendamping terkait persoalan ini,” ujar Faisal, Senin (11/5/2026).
Faisal meminta seluruh pihak tetap mengikuti prosedur resmi yang berlaku dalam kompetisi tersebut. Ia juga menyarankan agar pihak sekolah mengajukan peninjauan ulang kepada panitia penyelenggara apabila merasa terdapat kekeliruan dalam proses penilaian.
Menurutnya, LCC 4 Pilar merupakan agenda nasional yang diselenggarakan langsung oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia sehingga mekanisme penyelesaian keberatan berada di tangan penyelenggara.
“Karena ini kegiatan dari MPR RI, tentu ada mekanisme dan ketentuan yang harus diikuti,” katanya.
Meski demikian, Faisal menegaskan bahwa pada prinsipnya pihak SMAN 1 Pontianak menerima hasil perlombaan. Namun ia menilai evaluasi tetap diperlukan agar insiden serupa tidak kembali terjadi pada kompetisi mendatang.
“Kita selesaikan sesuai ketentuan lomba dan semua pihak harus menunjukkan sikap kesatria,” tegasnya.
Kronologi Kontroversi Penilaian Juri
Polemik bermula dalam siaran langsung LCC 4 Pilar MPR RI yang tayang melalui kanal YouTube MPRGOID pada 9 Mei 2026. Dalam sesi tanya jawab rebutan, pembawa acara memberikan pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK.
Regu C yang mewakili SMAN 1 Pontianak menjadi peserta pertama yang menekan bel dan memberikan jawaban.
“Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden,” ucap salah satu peserta.
Namun jawaban tersebut dinilai salah oleh juri, yakni Dyastasita Widya Budi, sehingga Regu C mendapat pengurangan nilai minus lima.
Kesempatan menjawab kemudian berpindah kepada Regu B dari SMAN 1 Sambas. Menariknya, regu tersebut memberikan jawaban yang dinilai sama dengan jawaban Regu C.
“Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden,” ujar peserta Regu B.
Kali ini, juri justru memberikan nilai 10 dan menyatakan jawaban tersebut benar.
“Iya, inti jawabannya sudah benar. Nilai 10,” kata Dyastasita.
Keputusan tersebut langsung memicu protes dari peserta SMAN 1 Pontianak yang menilai jawaban mereka identik dengan Regu B.
“Izin, tadi kami menjawabnya sama seperti regu B. Sama,” protes salah satu peserta.
Menanggapi keberatan itu, Dyastasita tetap mempertahankan keputusan dewan juri dengan alasan Regu C dianggap tidak menyebut unsur Dewan Perwakilan Daerah secara jelas.
“Tadi disebutkan regu C ya, itu pertimbangan dari DPD-nya tidak ada. DPR tadi. Jadi Dewan Juri tadi berpendapat nggak ada itu Dewan Perwakilan Daerah,” ujarnya.
Situasi semakin menjadi sorotan setelah juri lainnya, Indri Wahyuni, mengingatkan peserta mengenai pentingnya artikulasi saat menjawab pertanyaan.
“Begini ya, kan sudah diperingatkan dari awal ya, artikulasi itu penting ya. Jadi biasakan menjawab itu dengan artikulasi yang jelas. Kalau menurut kalian sudah, tapi Dewan Juri menilai kalian tidak karena tidak mendengar artikulasi kalian dengan jelas, ya itu artinya Dewan Juri berhak memberikan nilai -5,” tegasnya.
Video potongan momen tersebut kemudian ramai diperbincangkan warganet dan memicu beragam reaksi di media sosial. Banyak pihak meminta adanya evaluasi terhadap sistem penilaian dan transparansi dewan juri dalam ajang kompetisi nasional tersebut.
Sebagai informasi, LCC 4 Pilar MPR RI merupakan kompetisi tahunan yang bertujuan meningkatkan pemahaman pelajar mengenai nilai-nilai kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ajang ini diikuti pelajar tingkat SMA sederajat dari berbagai daerah di Indonesia.



Posting Komentar