Badut Penjual Balon di Mojokerto Menyesal Bunuh Mertua, Mengaku Tak Bisa Tidur Kepikiran Anak
Mojokerto — Seorang pria bernama Satuan (43), yang sehari-hari bekerja sebagai badut penjual balon, mengaku menyesali perbuatannya setelah membunuh ibu mertuanya dan melukai sang istri di wilayah Kabupaten Mojokerto. Namun di balik penyesalan itu, hal yang paling menghantuinya saat ini adalah nasib anak balitanya.
Dalam perbincangan bersama Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata di lobi Mapolres Mojokerto, Kamis (7/5/2026), Satuan mengaku tidak bisa tidur selama berada di rumah tahanan karena terus memikirkan anaknya yang masih kecil.
“Menyesal pasti menyesal. Yang bikin tidak bisa tidur karena kepikiran anak saya yang kecil terus,” ujar Satuan.
Percakapan tersebut direkam dan diizinkan untuk dipublikasikan kepada media. Dalam pengakuannya, Satuan menilai mengasuh anak balita bukan perkara mudah. Ia menyebut anaknya sering rewel dan sulit diasuh oleh orang lain.
Ia juga mengungkapkan ketidakpercayaannya terhadap sang istri, Sri Wahyuni alias Yuni (35), yang menurutnya jarang mengurus anak dengan alasan sering bekerja lembur.
“Apalagi anak saya itu susah, tidak semua orang bisa momong. Kalau istri saya kasar sama anak,” katanya.
Satuan dan Yuni menikah pada tahun 2020. Keduanya sama-sama berstatus duda dan janda sebelum menikah. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai dua anak, namun salah satunya telah meninggal dunia. Saat ini mereka memiliki seorang anak balita berusia sekitar 3,5 tahun serta seorang anak yang duduk di bangku kelas 2 SMP dari pernikahan sebelumnya.
Hubungan dengan Mertua Disebut Tidak Harmonis
Keluarga tersebut sempat tinggal bersama ibu kandung Yuni, Siti Arofah (53), di Dusun Sumbertempur, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Mojokerto. Namun sekitar delapan bulan terakhir mereka memilih tinggal di rumah kontrakan karena hubungan Satuan dengan mertuanya tidak harmonis.
Satuan merasa dirinya kurang dihargai sebagai menantu karena penghasilannya yang pas-pasan sebagai badut dan penjual balon keliling.
Meski demikian, ia mengklaim pembunuhan terhadap mertuanya terjadi secara spontan saat dirinya panik karena aksi penganiayaan terhadap istrinya diketahui korban.
“Spontan pak, iya panik. Karena mertua datang makanya saya langsung ambil pisau di dapur,” ungkapnya.
Pisah Ranjang dan Dilanda Konflik Rumah Tangga
Rumah kontrakan tempat kejadian perkara diketahui hanya berjarak sekitar 15 meter dari rumah korban. Belakangan, Satuan dan Yuni juga disebut telah pisah ranjang dan tinggal di rumah orang tua masing-masing di Dusun Sumbertempur.
Walau rumah tangga mereka dipenuhi konflik, Satuan mengaku masih mencintai istrinya. Sambil menangis, ia bahkan menyampaikan pesan kepada para perempuan agar tidak mempermainkan laki-laki yang tulus mencintai.
“Terhadap perempuan di luar sana supaya tidak mempermainkan laki-laki. Karena laki-laki kalau sudah tulus cinta, matipun dilakukan,” ujarnya.
Polisi Janjikan Bantuan untuk Anak Pelaku
Kapolres Mojokerto AKBP Andi Yudha Pranata menyatakan pihak kepolisian tidak hanya menjalankan fungsi penegakan hukum, tetapi juga berupaya memberikan perhatian terhadap kondisi keluarga pelaku, terutama anak balitanya.
“Kepolisian juga mencoba tidak hanya sebagai penegak hukum, tapi juga teman. Silakan nanti mungkin di dalam sampean bisa menyampaikan soal pembinaan anak,” kata Andi.
Kronologi Pembunuhan Sadis di Mojokerto
Peristiwa berdarah tersebut terjadi pada Rabu (6/5/2026) sekitar pukul 08.00 WIB di rumah kontrakan mereka di Dusun Sumbertempur RT 2 RW 1.
Satuan diduga emosi setelah istrinya menolak berhubungan badan. Ia juga menaruh curiga bahwa sang istri memiliki pria lain. Dalam kondisi emosi, ia menganiaya Yuni hingga kemudian dipergoki oleh mertuanya yang masuk melalui pintu belakang rumah.
Panik aksinya diketahui, pelaku mengambil pisau dapur dan menyerang korban. Siti Arofah mengalami tiga luka tusuk di bagian perut serta dua luka gorok di leher hingga tewas di lokasi kejadian.
Sebelum melarikan diri, pelaku juga menyayat leher istrinya menggunakan pisau yang sama dan mengunci rumah kontrakan dari luar.
Tim gabungan Unit Resmob dan Tim Jatanras Satreskrim Polres Mojokerto akhirnya berhasil menangkap Satuan di wilayah Surabaya sekitar pukul 13.30 WIB dengan bantuan anggota Polsek Asemrowo.
Sementara itu, Yuni hingga kini masih menjalani perawatan intensif di RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo akibat luka lebam di wajah dan luka sayatan di leher. Selain luka fisik, korban juga mengalami trauma mendalam akibat peristiwa tersebut.
CEK VIDEONYA


Posting Komentar