Kontroversi Lagu Gadis Manis Kalimantan: Cover Icha Cellow dan Mala Agatha Disorot karena Lirik Dianggap Vulgar
Zonaintiem.com — Lagu daerah berjudul Gadis Manis Kalimantan kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena popularitasnya semata, melainkan polemik yang muncul dari versi cover yang dinyanyikan oleh Icha Cellow dan Mala Agatha.
Perbincangan bermula dari penggalan lirik “P P apa?” yang dalam versi asli tidak bermakna vulgar. Namun, dalam pembawaan versi cover tersebut, pelafalan yang dinilai “dibuat-buat” justru memunculkan kesan berbeda di telinga sebagian pendengar. Bahkan, beberapa warganet menganggap pengucapan itu terdengar menyerupai kata yang berkonotasi tidak pantas dalam bahasa Jawa Timur.
Kontroversi semakin memanas setelah video penampilan tersebut diunggah melalui akun Instagram milik Mala Agatha pada 28 Maret 2026 dan turut tersebar di YouTube. Dalam unggahan itu, keterangan video justru menuliskan frasa yang memperkuat dugaan publik terkait pelesetan lirik.
Sejumlah kreator konten ikut angkat suara. Salah satunya akun Instagram @leotanimaju yang secara terbuka mengkritik gaya bernyanyi tersebut. Ia menilai perubahan pelafalan lirik tidak hanya menyimpang dari versi asli, tetapi juga berpotensi merusak makna lagu.
“Apa yang dipikirkan oleh peng-cover lagu ini? Ini parah sekali. Lirik aslinya bukan seperti itu,” ungkapnya dalam unggahan kritiknya.
Ia juga menyoroti bahwa tindakan mengubah lirik, terlebih dengan nuansa yang dinilai tidak pantas, dapat dianggap melanggar etika dalam berkarya. Menurutnya, seorang penyanyi seharusnya mampu memberikan nilai edukatif melalui karya yang dibawakan, bukan sebaliknya.
Lagu Gadis Manis Kalimantan sendiri merupakan karya dari Syahriyadi yang menggambarkan pesona seorang gadis Kalimantan. Dengan lirik sederhana berbahasa Banjar, lagu ini menyampaikan rasa kagum dan cinta pada pandangan pertama, serta menjadi representasi romantisme khas daerah.
Terlepas dari polemik yang terjadi, lagu ini tetap menjadi salah satu karya daerah yang populer dan telah diputar jutaan kali di berbagai platform digital. Namun, kontroversi ini kembali mengingatkan pentingnya menjaga keaslian serta makna dalam membawakan sebuah karya seni, khususnya lagu daerah yang sarat nilai budaya.


Posting Komentar