Business-With-Us-20251204-185150-0000

Dilema Ikan Sapu-Sapu di Ciliwung: Dianggap Hama, Namun Jadi Sumber Nafkah Warga

Daftar Isi


Zonaintiem.com, Jakarta – Aliran Sungai Ciliwung di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, menyimpan kisah kehidupan warga yang menggantungkan penghasilan dari ikan sapu-sapu, spesies yang selama ini kerap dianggap sebagai hama perairan.

Bagi sebagian kalangan, ikan sapu-sapu merupakan ancaman serius bagi ekosistem sungai. Namun bagi nelayan seperti Ajum (39), ikan tersebut justru menjadi sumber penghidupan yang tak tergantikan.

Setiap hari, Ajum bersama nelayan lainnya menyusuri aliran Sungai Ciliwung untuk menangkap ikan sapu-sapu. Pendapatan mereka sangat bergantung pada kondisi debit air sungai.

“Kalau air lagi bagus bisa sampai 20–30 kilogram. Tapi kalau banjir ya paling 10 kilo. Kadang kita nahan dulu karena berisiko,” ujar Ajum, dikutip dari Antara.

Dalam kondisi normal, Ajum mampu menangkap sekitar 15 kilogram ikan sapu-sapu per hari. Namun ketika debit air meningkat dan arus menjadi deras, hasil tangkapan turun cukup signifikan.

Saat ini, harga ikan sapu-sapu di tingkat pengepul berkisar antara Rp15.000 hingga Rp18.000 per kilogram. Meski terlihat cukup menjanjikan, penghasilan nelayan tetap tidak menentu.

“Kalau lagi boncos, ya cuma buat ongkos jalan saja. Sehari bisa habis Rp100 ribu sampai Rp150 ribu,” katanya.

Untuk mendapatkan hasil tangkapan, Ajum harus menyusuri sungai selama lima hingga enam jam, mulai sore hingga malam hari. Ia menggunakan ban sebagai alat bantu untuk mengapung mengikuti arus sungai.

Pekerjaan Penuh Risiko

Profesi tersebut bukan tanpa bahaya. Arus deras, kayu hanyut, serta kondisi tubuh yang harus selalu prima menjadi tantangan yang dihadapi setiap hari.

Meski demikian, tuntutan ekonomi membuat pekerjaan ini tetap dijalani. Ikan hasil tangkapan kemudian dijual kepada pengepul untuk diolah menjadi berbagai produk seperti cilok, nugget, otak-otak, hingga kerupuk.

Di sinilah muncul dilema yang cukup kompleks.

Di satu sisi, ikan sapu-sapu dinilai merusak ekosistem sungai. Spesies ini diketahui dapat merusak tanggul, memangsa ikan lain beserta telurnya, sehingga mengganggu keseimbangan hayati perairan.

Namun di sisi lain, keberadaan ikan tersebut justru menjadi penopang ekonomi bagi sebagian warga.

Ajum mengakui kondisi yang serba dilematis tersebut. Ia mendukung upaya pembersihan sungai, namun menilai pemberantasan total bukan perkara mudah.

“Memang bagus dibersihkan karena hama. Tapi enggak bakal bisa habis. Yang sudah biasa cari saja enggak bisa bersihin semuanya,” ujarnya.

Menurutnya, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan berkembang biak yang sangat cepat. Dalam sekali bertelur, satu induk dapat menghasilkan ratusan hingga ribuan anak.

“Kembang biaknya cepat, satu ekor bisa sampai ribuan kalau menetas,” kata Ajum.

Ia bahkan mengibaratkan upaya pemberantasan ikan sapu-sapu seperti membasmi nyamuk.

“Seperti nyamuk, dibasmi tetap ada lagi,” tambahnya.

Meski demikian, Ajum tetap menilai kebersihan sungai harus menjadi prioritas.

“Yang penting jaga lingkungan tetap bersih, tapi ikan ini juga ada manfaat ekonominya,” tandasnya.

Pegiat Lingkungan Dukung Pengendalian

Pandangan serupa disampaikan pegiat lingkungan Arief Kamarudin. Ia menilai langkah pemerintah membersihkan ikan sapu-sapu merupakan kebijakan yang positif demi menjaga keseimbangan ekosistem.

“Gerakan yang dilakukan pemerintah itu sangat bagus dan positif. Itu membuktikan kepedulian terhadap ekosistem, dan saya sangat mendukung,” kata Arief.

Ia menjelaskan, ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan perairan apabila tidak dikendalikan.

“Bukan hanya sapu-sapu, semua yang bersifat invasif di suatu ekosistem pasti akan mengganggu keseimbangan,” ujarnya.

Namun Arief menegaskan, persoalan lingkungan di sungai Jakarta tidak hanya soal ikan invasif, melainkan juga sampah dan limbah.

“Masalahnya bukan cuma satu. Ada sampah, limbah, dan ikan invasif. Semua itu harus dibereskan satu per satu,” katanya.

Menurut dia, langkah pembersihan ikan sapu-sapu tetap penting, meskipun persoalan sampah belum sepenuhnya terselesaikan.

“Kalau diambil, pasti jumlahnya berkurang. Tapi memang semua masalah harus diselesaikan bersamaan,” imbuhnya.

Ia juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat sebagai solusi jangka panjang, terutama untuk mengatasi persoalan sampah yang terus berulang.

“Kalau sampah, itu harus dari dasarnya. Kita butuh edukasi karena yang buang sampah adalah manusia. Kalau tidak diubah, akan terus berulang,” tegasnya.

Pemprov DKI Evaluasi Penanganan

Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengevaluasi metode penanganan ikan sapu-sapu agar tidak bertentangan dengan prinsip kesejahteraan hewan.

Saat ini, hasil penangkapan ikan sapu-sapu dimatikan terlebih dahulu, kemudian dikubur secara higienis di lokasi yang telah ditentukan agar tidak kembali ke perairan, tidak diperjualbelikan, serta dapat dimanfaatkan sebagai kompos alami.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, bahkan mengusulkan agar ikan sapu-sapu diolah seperti di Brasil, yakni dijadikan arang.

Pemprov DKI juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu karena berisiko mengandung residu logam berat seperti timbal (Pb) di atas ambang batas aman, yakni lebih dari 0,3 mg/kg.

Di sisi lain, Majelis Ulama Indonesia mengingatkan agar proses penguburan massal tidak dilakukan saat ikan masih hidup karena bertentangan dengan prinsip kesejahteraan hewan.

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan memastikan proses penanganan ikan sapu-sapu dilakukan sesuai rekomendasi MUI, yakni seluruh ikan dipastikan dalam kondisi mati sebelum dikubur.

Persoalan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung pun menjadi gambaran nyata bagaimana isu lingkungan dan ekonomi kerap berjalan beriringan.

Di satu sisi ada kebutuhan untuk memulihkan ekosistem sungai, namun di sisi lain terdapat kehidupan warga yang menggantungkan harapan dari keberadaan ikan tersebut.

Sebuah dilema yang tidak selalu memiliki jawaban sederhana.

(ZI/YA)

Posting Komentar

Business-With-Us-1