Ketegangan Memuncak, Iran Ancam Blokade Selat Hormuz, Trump Siapkan Serangan Balasan Lebih Dahsyat
Jakarta, Zonaintiem.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengancam akan memblokade total pengiriman minyak di kawasan Selat Hormuz. Ancaman tersebut langsung memicu reaksi keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang bersumpah akan melancarkan serangan balasan jauh lebih menghancurkan jika jalur energi global itu benar-benar terganggu.
Dalam laporan media internasional Reuters, juru bicara IRGC melalui media pemerintah Iran menegaskan bahwa pihaknya memegang kendali penuh atas jalannya konflik yang tengah berlangsung, termasuk keputusan terkait lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia.
“Kami adalah pihak yang akan menentukan akhir dari perang ini,” tegas juru bicara IRGC pada Selasa (10/3/2026).
Menanggapi ancaman tersebut, Donald Trump langsung mengeluarkan peringatan keras dalam konferensi pers pada Senin waktu setempat. Ia menyatakan bahwa militer Amerika Serikat telah memberikan kerusakan signifikan terhadap kemampuan tempur Iran dan memprediksi konflik ini akan berakhir lebih cepat dari jadwal empat minggu yang sebelumnya ia tetapkan.
Trump juga memperingatkan bahwa intensitas serangan Amerika Serikat akan meningkat drastis jika Iran berani mengganggu lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur strategis yang melayani sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
“Kami akan memukul mereka dengan sangat keras sehingga tidak mungkin bagi mereka atau siapa pun yang membantu mereka untuk dapat memulihkan bagian dunia itu lagi,” ujar Trump dengan nada tegas.
Ancaman tersebut kembali ditegaskan Trump melalui unggahan di platform media sosial Truth Social. Dalam unggahannya, ia menyatakan bahwa Iran akan menghadapi serangan yang jauh lebih besar jika benar-benar menutup jalur logistik energi internasional tersebut.
“Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dihantam oleh Amerika Serikat 20 kali lebih keras daripada yang telah mereka terima sejauh ini,” tulis Trump.
Di lapangan, situasi dilaporkan semakin mencekam setelah sebuah kilang minyak di Teheran terkena serangan yang memicu kepulan asap hitam tebal di atas ibu kota Iran. Eskalasi konflik juga terjadi setelah militer Israel melancarkan serangan baru ke wilayah tengah Iran serta ke Beirut sebagai balasan atas serangan lintas batas dari milisi Hizbullah.
Sementara itu, korban jiwa terus bertambah sejak serangan udara dan rudal besar-besaran diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa mengungkapkan bahwa skala kehancuran yang dialami warga sipil semakin meluas.
“Setidaknya 1.332 warga sipil Iran telah terbunuh dan ribuan lainnya luka-luka sejak AS dan Israel meluncurkan rentetan serangan udara dan rudal di seluruh Iran,” ungkapnya.
Dampak konflik ini juga dirasakan langsung pada sektor energi global. Blokade de facto di Selat Hormuz membuat kapal tanker tidak dapat berlayar selama lebih dari sepekan. Banyak produsen minyak terpaksa menghentikan pemompaan karena fasilitas penyimpanan sudah penuh.
Situasi tersebut sempat mendorong harga minyak mentah Brent melonjak hingga 29 persen pada Senin, mencapai level tertinggi sejak 2022. Namun pada Selasa, harga kembali turun sekitar 10 persen setelah muncul sinyal pelonggaran sanksi energi terhadap Rusia oleh pemerintah AS guna menstabilkan pasokan global.
Di dalam negeri Amerika Serikat, dampak konflik mulai memicu kekhawatiran publik, terutama terkait lonjakan harga bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang. Berdasarkan jajak pendapat yang dirilis Ipsos bersama Reuters, mayoritas warga Amerika meragukan urgensi perang tersebut.
Sebanyak 67 persen responden memperkirakan harga bensin akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan, sementara hanya 29 persen yang menyatakan mendukung perang tersebut.
Hingga saat ini, situasi di Timur Tengah masih sangat volatil dengan pasar saham global bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan konflik. Dunia kini menanti apakah ancaman blokade minyak oleh Iran benar-benar akan direalisasikan, yang berpotensi memicu respons militer besar-besaran dari Washington dan memperluas konflik di kawasan.
(ZI/YA)


Posting Komentar