Business-With-Us-20251204-185150-0000

Ki Ageng Ganjur Guncang Panggung Asia Pacific Music Festival 2025 di China dengan Nuansa Etnik Jawa

Daftar Isi
Ki Agung Ganjur Perfome

Grup musik etnik Ki Ageng Ganjur (KAG) asal Yogyakarta berhasil memukau penonton dari berbagai negara di ajang Asia Pacific Music Festival (APMF) 2025 yang diselenggarakan di Fujian, China, pada Sabtu (4/10).

Dalam penampilan yang disebut "menakjubkan" oleh penyelenggara, KAG sukses menyajikan paduan harmonis antara musik tradisional Jawa dan sentuhan jazz serta blues. Kekuatan etnik ini diperkuat oleh instrumen khas Nusantara seperti gamelan, suling, angklung, dan gendang, yang berpadu apik dengan gitar dan saxophone.

'Lir Ilir' Jadi Primadona

Puncak penampilan Ki Ageng Ganjur terjadi saat mereka membawakan lagu spiritual Jawa, "Lir Ilir" karya Sunan Kalijaga. Meskipun liriknya tidak dipahami, penonton tampak menikmati lantunan lagu tersebut sambil bergoyang mengikuti irama musik.

"Penampilan yang menakjubkan dan menarik. Musiknya indah dan sangat mengesankan," ujar Ny. Liu, pengawas pelaksanaan APMF.

KAG juga membawakan komposisi "Sound of Peace" karya Dwiki Dharmawan yang melukiskan dialog musikal antara budaya Timur dan Barat.

Selain lagu-lagu etnik Indonesia, Ki Ageng Ganjur membawakan medley lagu populer dunia seperti "Wind of Change", "Sweet Child o’ Mine", dan "Heal the World" yang diaransemen ulang dengan nuansa etnik Nusantara. Sebagai jembatan budaya, mereka juga membawakan lagu populer China seperti "Yue Liang Dai Biao Wo De Xin" dan "Tian Mi Mi" yang diiringi gamelan dan suling.

Jembatan Budaya Indonesia-China

Tn. Tao, Manajer Promosi APMF, mengatakan kehadiran KAG memberikan warna tersendiri pada festival yang diikuti 20 kelompok musik dari kawasan Asia Pasifik tersebut.

"Sentuhan etnik-tradisional yang dipadukan dengan komposisi modern membuat festival ini semakin beragam dan menarik," katanya.

Dukungan penuh diberikan oleh Tn. Li Pei Feng dari Cheng Ho Museum selaku sponsor. Ia menilai pertunjukan KAG telah menjadi jembatan budaya yang kuat antara Indonesia dan China.

Al-Zastrouw, Ketua tim kebudayaan Ki Ageng, mengungkapkan rasa bangganya atas sambutan yang sangat meriah. "Ini membuktikan bahwa musik etnik bisa berdiri sejajar dengan musik dunia, asal dikemas secara kreatif dan inovatif," pungkasnya.

APMF 2025 diselenggarakan oleh Divisi Center for Asia Pacific Culture pada China International Communication Group (CICC) dengan dukungan Pemerintah Fujian.

(ZI/YA)

Posting Komentar

Business-With-Us-1