Siswi SD di Demak Diduga Gantung Diri, CCTV dan Hasil Visum Ungkap Kronologi
Zonaintiem.com – Demak
Kasus meninggalnya seorang siswi sekolah dasar (SD) di Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, mengejutkan warga dan menjadi sorotan publik. Tragedi yang terjadi pada awal pekan ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga sekaligus memunculkan berbagai pertanyaan setelah sejumlah fakta dari rekaman CCTV dan keterangan kepolisian terungkap ke publik.
Peristiwa tersebut tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi orang tua dan kerabat, tetapi juga memantik diskusi luas mengenai kondisi psikologis anak-anak di tengah tekanan kehidupan modern.
Detik-Detik Penemuan Korban Terekam CCTV
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Demak, Iptu Anggah Mardwi Pitriyono, menjelaskan bahwa rekaman CCTV menjadi kunci dalam mengungkap kronologi kejadian.
Berdasarkan rekaman, pada pukul 18.01 WIB ibu korban terlihat pulang ke rumah bersama adik korban sambil menggendong anak kecil. Ia masuk ke dalam rumah seperti biasa. Namun, hanya dalam hitungan menit, situasi berubah drastis.
Sekitar pukul 18.03 WIB, ibu korban kembali keluar rumah dalam kondisi panik sambil berteriak meminta pertolongan warga. Teriakan tersebut segera mengundang perhatian tetangga sekitar yang langsung berdatangan untuk membantu proses evakuasi korban ke RSUD Wongsonegoro.
Hasil Visum Ungkap Fakta Penting
Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter forensik, korban dinyatakan meninggal dunia akibat mati lemas. Ditemukan tanda jejas pada bagian leher yang sesuai dengan karakteristik kasus gantung diri.
Pihak kepolisian menegaskan tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan ataupun bukti yang mengarah pada keterlibatan pihak lain. Rentang waktu yang sangat singkat antara kedatangan ibu korban hingga teriakan meminta tolong dinilai tidak memungkinkan terjadinya tindak kekerasan oleh orang lain.
Selain itu, aktivitas terakhir pada ponsel korban tercatat sekitar pukul 16.25 WIB. Dari hasil pengecekan rekaman CCTV, tidak ada orang lain yang masuk ke rumah sebelum kejadian berlangsung.
Percakapan WhatsApp Jadi Perhatian Publik
Sehari sebelum kejadian, beredar tangkapan layar percakapan WhatsApp antara korban dan ibunya yang bernada emosional. Polisi membenarkan adanya percakapan tersebut, namun menegaskan bahwa penyelidikan masih terus berjalan dan belum dapat disimpulkan sebagai faktor tunggal penyebab kejadian.
Menurut penyidik, keputusan seseorang untuk mengakhiri hidup biasanya dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks, sehingga tidak dapat disimpulkan hanya dari satu percakapan saja.
Sosok Korban Aktif dan Berprestasi
Di lingkungan sekolah dan tempat tinggalnya, korban berinisial SA dikenal sebagai anak yang aktif dan ceria. Ia juga serius menekuni olahraga taekwondo dan memiliki semangat dalam mengikuti kegiatan sekolah.
Kepergian korban secara mendadak membuat pihak sekolah, teman-teman, serta warga sekitar merasa terpukul. Tidak ada tanda-tanda mencolok yang sebelumnya terlihat dari perilaku korban di lingkungan sosialnya.
Alarm bagi Orang Tua dan Lingkungan
Tragedi ini menjadi pengingat penting tentang kesehatan mental anak dan pentingnya komunikasi yang sehat dalam keluarga. Anak usia remaja awal dinilai rentan terhadap tekanan emosional, baik dari lingkungan pendidikan, pergaulan, maupun dinamika keluarga.
Para ahli menekankan bahwa dukungan emosional, empati, serta ruang dialog terbuka antara orang tua dan anak harus menjadi prioritas utama guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Bunuh diri bukanlah solusi atas persoalan hidup. Jika Anda atau orang terdekat mengalami tekanan emosional, segera cari bantuan profesional melalui psikolog, puskesmas, rumah sakit, atau layanan konseling resmi di wilayah masing-masing.
ZI/YA



Posting Komentar