Business-With-Us-20251204-185150-0000

Polemik Pembagian MBG Saat Ramadan di Pati, Orang Tua Soroti Waktu Distribusi

Daftar Isi

Zonaintiem.com, Jepara — Polemik pembagian program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mencuat di tengah suasana Ramadan. Sejumlah wali murid menyampaikan keberatan karena distribusi makanan tetap dilakukan pada siang hari, sekitar pukul 12.00 WIB, saat mayoritas siswa tengah menjalankan ibadah puasa.


Bagi para orang tua, momentum Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga ruang pendidikan karakter bagi anak. Mereka khawatir pembagian makanan di waktu Zuhur dapat menimbulkan persepsi yang keliru bagi siswa yang sedang belajar menahan lapar dan dahaga.


“Kalau dibagikan siang-siang, kesannya seperti mengajarkan anak untuk tidak berpuasa. Lebih baik dibagikan sore menjelang berbuka atau dalam bentuk lain yang lebih relevan,” ujar Hasan, salah satu wali murid di Pati, Rabu (19/2/2026).


Kekhawatiran Soal Pendidikan Karakter


Ramadan selama ini dipahami banyak keluarga sebagai sarana pembentukan disiplin, empati, dan pengendalian diri. Anak-anak yang mulai belajar berpuasa didorong untuk memahami makna menahan diri sejak dini.


Karena itu, pembagian makanan di tengah jam sekolah memicu perdebatan. Meski makanan yang dibagikan berupa produk kering seperti roti dan susu UHT yang bisa disimpan hingga waktu berbuka, sebagian orang tua menilai momentum pembagian tetap memiliki dampak psikologis.


“Programnya bagus, kami mendukung. Tapi pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan suasana bulan suci,” kata Yanto, wali murid lainnya.


Menurutnya, distribusi menjelang pulang sekolah atau mendekati waktu berbuka bisa menjadi jalan tengah. Dengan begitu, asupan gizi tetap tersalurkan tanpa menimbulkan kegamangan di lingkungan pendidikan.


Pemerintah: Sistem Logistik Sudah Terjadwal


Menanggapi polemik tersebut, Ketua Satgas MBG Kabupaten Pati, Risma Ardhi Chandra, memastikan program tetap berjalan selama Ramadan. Ia menjelaskan, menu telah disesuaikan menjadi makanan kering agar bisa dikonsumsi saat berbuka.


Namun soal waktu distribusi, pemerintah daerah menyebut adanya kendala teknis. Sistem pengiriman dari dapur layanan ke sekolah sudah memiliki jadwal tetap. Perubahan mendadak dikhawatirkan mengganggu alur logistik dan konsistensi distribusi.


“Penyesuaian waktu tidak semudah membalikkan telapak tangan karena menyangkut sistem pengiriman dan kesiapan dapur layanan,” jelasnya.


Di sisi lain, satu dapur layanan MBG di wilayah Margorejo atau Rondole saat ini masih dihentikan sementara. Penutupan dilakukan sembari menunggu hasil uji laboratorium terkait dugaan kasus keracunan yang sempat terjadi sebelumnya. Hingga kini, hasil resmi laboratorium disebut belum keluar meski sampel telah diambil sekitar 10 hari lalu.


Antara Gizi dan Nilai Religius


Program MBG pada dasarnya dirancang untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah. Di banyak daerah, program ini disambut positif karena membantu pemenuhan nutrisi siswa, terutama dari keluarga prasejahtera.


Namun di bulan Ramadan, konteksnya menjadi berbeda. Isu yang muncul bukan lagi soal manfaat gizi semata, melainkan sensitivitas waktu dan nilai religius yang menyertainya.


Pengamat pendidikan di Pati menilai polemik ini seharusnya bisa menjadi bahan evaluasi bersama. Menurutnya, komunikasi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah perlu diperkuat agar kebijakan teknis tidak berbenturan dengan nilai yang hidup di masyarakat.


“Ramadan adalah momen pembelajaran spiritual. Kebijakan publik yang bersinggungan langsung dengan anak-anak perlu mempertimbangkan dimensi sosial dan budaya,” ujarnya.


Jalan Tengah yang Diusulkan


Sejumlah wali murid mengusulkan agar pembagian makanan dilakukan dalam dua opsi. Pertama, distribusi tetap di sekolah tetapi mendekati jam pulang. Kedua, makanan dibagikan untuk dibawa pulang tanpa dibuka di lingkungan kelas.


Ada pula yang mengusulkan agar selama Ramadan, MBG dialihkan dalam bentuk paket mingguan yang bisa diterima orang tua untuk kemudian diatur konsumsinya di rumah.


Meski begitu, sebagian orang tua lainnya memilih bersikap lebih moderat. Mereka menilai persoalan ini bisa disikapi dengan edukasi tambahan kepada siswa bahwa makanan tersebut memang diperuntukkan untuk berbuka.


“Yang penting anak-anak diberi pemahaman. Jangan sampai malah jadi polemik berkepanjangan,” ujar seorang wali murid lainnya.


Menunggu Evaluasi


Hingga saat ini, program MBG di Pati tetap berjalan sesuai jadwal. Pemerintah daerah belum mengumumkan perubahan mekanisme distribusi.


Polemik ini menjadi cerminan bagaimana kebijakan publik di tingkat lokal bisa menghadapi tantangan kontekstual, terutama ketika bersinggungan dengan nilai keagamaan dan kebiasaan masyarakat.


Di tengah semangat meningkatkan kualitas gizi generasi muda, sensitivitas waktu dan pendekatan komunikasi menjadi kunci agar program strategis seperti MBG tidak kehilangan dukungan publik.


Ramadan sejatinya adalah bulan refleksi. Bagi pemerintah, ini juga bisa menjadi momentum evaluasi agar program yang bertujuan mulia tetap selaras dengan aspirasi masyarakat.


(ZI/YA)

Posting Komentar

Business-With-Us-1