Business-With-Us-20251204-185150-0000

Tak Perlu Validasi! Simak Alasan Mengapa Kebaikan Sejati Justru Tumbuh dalam Kesunyian

Daftar Isi

 


JEPARA, Zonaintiem.com – Dalam riuh rendah dunia yang serba digital, di mana setiap tindakan seringkali diukur dari seberapa banyak "like" dan "share" yang didapat, nilai sebuah ketulusan mulai tergerus. Di sudut-sudut Jepara yang tenang, kita diingatkan kembali pada sebuah esensi moral: bahwa kebaikan sejati tidak butuh panggung.

Kebaikan yang Tak Perlu Mata Manusia

Ada sebuah ungkapan bijak yang sering terlupakan: "Tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu." Prinsip ini menekankan bahwa nilai sebuah perbuatan baik terletak pada niatnya, bukan pada pengakuan penontonnya.

Melakukan kebaikan tanpa terlihat bukan berarti kita lemah atau tidak eksis. Justru, itu adalah bentuk kekuatan mental yang luar biasa. Ketika seseorang berbuat baik hanya demi dilihat manusia, ia sedang membangun istana pasir—megah namun mudah runtuh oleh satu gelombang kekecewaan jika pujian itu tak kunjung datang. Sebaliknya, kebaikan yang tersembunyi adalah akar pohon; tak terlihat, namun dialah yang menopang kehidupan.

Paradoks Pandangan Manusia: Si "Buruk" yang Belum Tentu Hina

Seringkali, masyarakat kita begitu cepat menghakimi. Seseorang yang penampilannya urakan, masa lalunya kelam, atau cara bicaranya ceplas-ceplos seringkali langsung dicap sebagai "orang jelek" secara moral.

Namun, sejarah dan realita sering menunjukkan hal yang kontras:

Banyak mereka yang dipandang "jelek" justru memiliki empati yang paling tulus karena mereka tahu rasanya tidak dihargai.

Banyak mereka yang dianggap "sampah masyarakat" justru melakukan aksi kemanusiaan yang lebih konkret dibandingkan mereka yang hanya berteori tentang kebajikan di atas mimbar.

Manusia yang dipandang buruk oleh mata orang lain seringkali adalah mereka yang sedang berproses, atau bahkan mereka yang sudah selesai dengan ego pribadinya sehingga tidak lagi peduli dengan validasi luar.

"Jangan menilai buku dari sampulnya, karena Tuhan melihat hati, sementara manusia hanya melihat apa yang tersampai di mata."

Mengapa Kita Harus Tetap Berbuat Baik?

Jika kebaikan kita tidak dilihat, dan jika kita terus dipandang buruk oleh orang lain, lalu untuk apa tetap menjadi orang baik? Jawabannya sederhana: Ketenangan batin.

Kebaikan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi memberikan kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan materi. Ada rasa damai ketika kita tahu bahwa kita telah membantu sesama tanpa harus mempermalukan penerimanya dengan kamera ponsel. Begitu pula saat kita dipandang jelek; itu adalah filter alami untuk mengetahui siapa sahabat sejati yang bertahan di sisi kita tanpa mempedulikan stigma.

Kesimpulan

Dunia mungkin tidak selalu adil dalam menilai seseorang. Namun, di Zonaintiem.com, kita percaya bahwa kejujuran dalam berbuat adalah mata uang yang paling berharga. Biarlah kebaikanmu menjadi rahasia antara kamu dan Sang Pencipta, dan biarlah pandangan buruk manusia menjadi penggugur dosa-dosamu.

Sebab pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling bersinar di mata manusia, melainkan siapa yang paling berarti di hadapan Tuhan.

Penulis: (ZI/YA)

Zonaintiem.com - Kabar dari Hati untuk Jepara.

Posting Komentar

Business-With-Us-1